Pedoman Paling Radikal (Level “Non-Referensial”): Media Sosial sebagai “Sistem yang Tidak Menunjuk ke Apa Pun”
Di titik ini, bahkan gagasan bahwa media sosial “merepresentasikan sesuatu” mulai runtuh. Kita memasuki wilayah di mana media sosial dapat dilihat sebagai arus tanda yang tidak pernah benar-benar merujuk pada realitas tetap apa pun—hanya pada tanda lain yang terus berubah.
Pertama, “menganggap setiap konten sebagai referensi dari referensi lain.” Tidak ada asal yang murni; setiap informasi selalu berasal dari sesuatu yang sudah merupakan interpretasi sebelumnya.
Kedua, “menyadari bahwa pemahaman selalu datang setelah makna bergeser.” Saat kita memahami sesuatu, maknanya sudah tidak lagi berada di tempat yang sama seperti saat kita pertama kali melihatnya.
Selanjutnya, “mengamati bahwa perhatian tidak pernah benar-benar ‘memilih’, hanya mengikuti tarikan.” Apa yang kita anggap sebagai keputusan sering kali hanyalah hasil dari dorongan sistem yang tidak terlihat.
Kemudian, ada konsep “membiarkan diri tidak menjadi titik referensi.” Kita tidak harus menjadi pusat interpretasi atas apa yang kita lihat; kita bisa membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa menjadikannya bagian dari identitas.
Pedoman unik berikutnya adalah “menggunakan ketidakjelasan sebagai kondisi default, bukan masalah.” Di media sosial, kejelasan adalah pengecualian sementara, bukan keadaan normal.
Selanjutnya, “mengamati bahwa setiap scroll adalah perpindahan antar sistem makna yang tidak kompatibel.” Kita tidak berpindah konten, tetapi berpindah cara dunia “dibaca” dalam hitungan detik.
Kemudian, “menyadari bahwa algoritma tidak pernah menunjukkan sesuatu, hanya menyusun kemungkinan keterlihatan.” Tidak ada yang benar-benar ‘ditampilkan’; semuanya adalah hasil penyusunan probabilitas.
Pedoman lain yang sangat unik adalah “menganggap reaksi sebagai bentuk kehilangan jarak.” Semakin cepat kita bereaksi, semakin kita kehilangan kemampuan untuk melihat konteks yang lebih luas.
Selanjutnya, “menghindari keinginan untuk menyatukan semua informasi menjadi satu narasi.” Dunia digital tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi satu cerita utuh.
Kemudian, “membaca identitas sebagai efek samping dari keterpaparan berulang, bukan inti diri.” Diri digital bukan esensi, tetapi residu dari pola perhatian.
Terakhir, “menyadari bahwa bahkan konsep ‘memahami media sosial’ adalah konstruksi sementara yang akan berubah saat dipikirkan.” Setiap usaha memahami akan langsung menjadi bagian dari sistem yang sedang diamati.
Penutup
Pada level non-referensial ini, media sosial tidak lagi “menunjuk” ke dunia, tidak juga ke makna, bahkan tidak ke sistem yang stabil. Ia hanya bergerak sebagai jaringan tanda yang terus mengacu pada dirinya sendiri.
Dan mungkin satu-satunya hal yang tersisa adalah ini: semakin kita mencari sesuatu yang benar-benar “dirujuk,” semakin jelas bahwa yang kita sebut referensi hanyalah bayangan sementara dari sesuatu yang tidak pernah diam.